Dua Kodok Endemik Jawa Berstatus Kritis

Rabu, 26 2008 17:06 WIB

Kodok merah– amphibiainfo.com

BOGOR–MI: Dua jenis kodok endemik Jawa yaitu kodok merah (Leptophryne cruentata) dan kodok pohon ungaran (Philautus jacobsoni) dinyatakan berstatus kritis oleh International Union for Conservation and Natural Resources (IUCN).

“Kodok pohon ungaran sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 1930-an, hanya ada awetannya di Belanda,” kata peneliti kodok dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hellen Kurniati, di Cibinong Science Center, Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Ia mengungkapkan hal itu di sela-sela open house dalam rangka HUT Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) ke-114 yang akan digelar pada 26-28 November. “Namun kita belum bisa mengatakan bahwa kodok pohon ungaran sudah punah,” lanjut dia.

Kodok merah hanya terdapat di hutan tropis dataran tinggi Jawa Barat, sedangkan kodok pohon ungaran hanya terdapat di hutan tropis Jawa Tengah. Saat melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Halimun, Jabar, pada Agustus 2005 lalu, Hellen hanya menemukan empat ekor kodok merah.

Selain kedua jenis kodok tersebut, empat jenis kodok endemik lainnya juga berstatus rentan seperti kongkang jeram (Hula masonii), kodok pohon mutiara (Nytixalus margaritifer), kodok pohon kaki putik (Philautus pallidipes), dan kodok pohon jawa (Rhacophorus javanus). Ke-empat jenis kodok tersebut merupakan spesies asli hutan yang tidak bisa hidup di luar hutan.

Indikator perubahan iklim

Meski peran dalam rantai makanan relatif tidak signifikan, namun kodok berperan penting sebagai indikator perubahan iklim. “Oleh karena itulah tahun 2008 ditetapkan sebagai Year of the Frog (tahun kodok),” kata Hellen.

“Jika populasi kodok di suatu wilayah turun, bisa diindikasikan bahwa di tempat itu telah terjadi polusi atau deforestasi. Jadi di wilayah dimana spesies kodok paling beragam, bisa dikatakan kondisi lingkungannya paling bagus,” jelasnya.

Kodok, kata dia, adalah jenis satwa yang sangat terikat dengan habitatnya. “Berbeda dengan burung yang bisa pindah jika lokasi tinggalnya rusak, kodok tidak bisa begitu.”

Dari 5.915 jenis kodok yang sudah ditelaah statusnya oleh IUCN, 1.893 jenis diantaranya berada dalam status terancam dan menuju kepunahan. Di Indonesia terdapat sekitar 351 jenis kodok dan lebih dari 100 jenis lainnya belum dideskripsikan, terutama jenis-jenis dari Papua. “Papua memiliki spesies kodok yang paling beragam, ada sekitar 150 jenis,” kata Hellen.

Dalam penelitiannya pada tahun 2005 – 2008 di wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat, Hellen menemukan tujuh spesies kodok yang kemungkinan merupakan spesies baru. “Di kawasan tersebut terdapat 78 spesies kodok yang sudah diidentifikasi. Di seluruh Sumatra ada 98 spesies,” kata dia.

Ancaman kepunahan kodok, selain dikarenakan polusi dan hilangnya habitat, juga disebabkan oleh penyakit dari jamur dan virus. Namun di Indonesia, penyakit akibat jamur dan virus ini tidak sampai mematikan kodok secara massal.

“Ada asumsi bahwa kodok di Indonesia bisa terhindar dari kematian akibat jamur dan virus karena Indonesia memiliki sinar matahari yang melimpah. Sinar ultraviolet diyakini mampu mematikan jamur dan virus tersebut,” kata dia.

Rangkaian kegiatan open house bertema pelestarian amfibi terutama kodok di Indonesia ini meliputi lomba foto amfibi, training taksonomi amfibi, dan workshop guru SMA. (Ant/OL-01) http://mediaindonesia.com/

~ by robeshare on November 26, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: