Mengembalikan Citra Borobudur sebagai Wisata Budaya Dunia

29 2008 04:25 WIB

MI/TOSIANI

YOGYAKARTA–MI: Sekarang saatnya mengembalikan citra Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah sebagai obyek wisata budaya dunia, meskipun candi Buddha terbesar ini sudah dikeluarkan dari tujuh keajaiban dunia.

Komisaris Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Setyono Djuandi Darmono di Yogyakarta, Jumat (28/11) mengatakan, karena itu masyarakat Indonesia harus mampu menciptakan sendiri sebutan Candi Borobudur untuk menggantikan sebutan tujuh keajaiban dunia.

“Kita harus mampu menciptakan sebutan yang bisa diakui dunia, misalnya sebutan Candi Borobudur sebagai candi Buddha terbesar dan tertua di dunia, sehingga tanpa sebutan tujuh keajaiban dunia tidak masalah,” katanya sebelum acara pisah-sambut Dewan Komisaris dan Direksi PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko.

Selain itu, kata dia, Candi Borobudur dapat difungsikan sebagai Pusat Studi Budaya Lintas Agama dengan menyertakan lembaga dan obyek wisata religius di sekitar kawasan Candi Borobudur ke dalam program pengembangan pariwisata daerah setempat.

Di wilayah Candi Borobudur terdapat Sendangsono sebagai obyek wisata religius bagi umat Katholik, Pondok Pesantren Pabelan, Seminari di Magelang serta bangunan tempat ibadat umat Buddha yang sudah ratusan tahun usianya.

Semua itu bisa dikemas menjadi obyek wisata yang menarik dan sebagai pusat studi lintas agama. Untuk itu, menurut dia perlu mempromosikan Candi Borobudur dan Prambanan sebagai aset pariwisata yang diharapkan mengembalikan citra Indonesia, sehingga bisa mendatangkan investor dari luar negeri.

“Semua itu perlu kerja keras para pemangku kepentingan pariwisata agar dapat terealisir. Upaya tersebut diyakini bisa merubah persepsi dunia tentang Indonesia, dan melalui pariwisata yang aman dan damai diharapkan bisa mendatangan wisatawan mancanegara ke negeri ini,” katanya.

Ia mengatakan Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan bisa dimanfaatkan untuk membantu mengembalikan citra Indonesia sebagai obyek utama kunjungan wisata di Indonesia maupun mancanegara.

Karena itu, target jangka panjang dan menengah adalah mendatangkan 10 juta wisatawan per tahun ke Candi Borobudur dan Prambanan serta menaikkan harga tiket tanda masuk ke taman wisata setempat.

“Jadi, jangan sampai obyek wisata budaya kelas dunia dihargai rendah dengan harga tiket tanda masuk yang murah hanya Rp100 ribu untuk wisatawan mancanegara. Padahal harga tiket masuk wisatawan ke Menara Eiffel di Prancis sebesar Rp1 juta,” katanya.

Sementara itu, susunan Dewan Komisaris dan Direksi yang baru  terdiri Komisaris Utama Setyono D Darmono, dan Komisaris Sapta Nirwanda, Budi Susilo serta Buntje Harbunangin. Sedangkan Direktur Utama dijabat Purnomo Siswoprasetjo, dan para direktur terdiri Agus H Canny, Linus Jonan, Hendro Hastjarjo dan Retno Hardiasiwi W.  (Ant/OL-03) http://mediaindonesia.com/index.php?ar_id=NDcyMjk=

~ by robeshare on November 29, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: